Serahkan Bantuan Kaki Palsu, PT TWC Dukung Kemandirian Penyandang Disabilitas

3 minutes

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) mendukung Pemerintahan Indonesia mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif dan toleran. Salah satu hal yang menjadi perhatian khusus adalah mendukung aspirasi serta kemandirian para disabilitas agar mampu berdaya menghadapi kondisi pascapandemi.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL), PT TWC menyerahkan tiga kaki palsu kepada dua penyandang disabilitas, Rabu (4/8/2021). Bantuan diserahkan secara simbolis oleh TJSL & SME Founding Manager Bambang Sarwo Eddy didampingi TJSL & SME Founding Implementation AM Ismi kepada penerima manfaat, yaitu Sudiyono Andi Nugroho dan Fitriyanto Santoso.

TJSL & SME Founding Manager Bambang Sarwo Eddy menyatakan bantuan ini merupakan langkah konkrit PT TWC untuk mendukung kemandirian yang membuka akses kesejahteraan bagi penyandang disabilitas. Hal itu menjadi tujuan bersama untuk mencapai Indonesia yang lebih inklusif.

“Di tengah keterbatasan akibat pandemi ini, kami tidak berhenti. Kami upayakan program yang dilakukan sesuai dengan nilai-nilai SDG (Sustainable Development Goals) sebagai landasan untuk melaksanakan Program TJSL, di antaranya mewujudkan kehidupan yang sehat dan sejahtera,” ungkap Eddy di Prambanan, Sleman, Rabu (4/8/2021).

PT TWC sangat memperhatikan pembentukan ruang pemberdayaan yang inklusif bagi para penyandang disabilitas ini. “Salah satu masalah utama mereka adalah kesulitan untuk mobilitas. Maka dengan alat bantu ini, akan membantu mobilitas mereka, sehingga bisa kembali aktif beraktivitas dan menjadi produktif,” lanjutnya.

Bantuan kaki palsu ini dibuat selama hampir dua bulan. Prosesnya meliputi pengukuran awal, pengepasan ukuran kaki palsu dan sentuhan akhir. “Kaki palsu ini kami garap sedemikian presisi agar para penerima manfaat bisa nyaman memakainya di kala beraktivitas,” lanjutnya.

Sudiyono Andi Nugroho (35 tahun) merasa beruntung bisa mendapatkan kaki palsu ini. Dirinya terpaksa harus kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan kerja. Hal ini pernah membuatnya hilang harapan. “Keluarga terutama anak-anak saya yang pertama memberi semangat dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Saya pun merasa bersemangat kembali,” ungkapnya.

Bantuan kaki palsu ini baginya menjadi sumber semangat baru untuk kembali beraktivitas di masa pandemi. Dirinya juga masih membiasakan diri untuk memakai kaki agar sesuai dengan aktivitasnya.

“Tentunya kami berterimakasih atas bantuan yang sangat kami butuhkan ini. Kalau tidak melalu bantuan ini, kami mungkin kesulitan karena harganya cukup mahal. Mudah-mudah bisa terus kami gunakan untuk kebutuhan yang produktif,” ujar warga Sambirejo, Prambanan, Sleman, yang beraktivitas sebagai buruh tani ini.

Salah satu penerima manfaat lainnya, Fitriyanto Santoso (43 tahun) berharap program bantuan kaki palsu ini bisa diperluas agar bisa menjangkau teman-teman disabilitas lainnya. Pria yang kehilangan dua kaki karena kecelakaan tunggal ketika berkendara ini bersyukur menerima kaki palsu dari PT TWC yang sesuai dengan ukuran tubuhnya.

“Pasti ada banyak teman disabilitas yang sebenarnya ingin berkegiatan, ingin produktif, namun karena kekurangannya, menjadi pribadi yang pasif. Kami berharap bantuan ini bisa menjangkau daerah-daerah lainnya,” ujarnya.

Eddy menambahkan bahwa menumbuhkan kesadaran untuk mendukung para disabilitas ini butuh kerjasama lintas sektor yang saling bersinergi. “Kami jelas tidak mampu berbuat banyak hal. Namun kami ingin mengajak berbagai pihak untuk turut serta membangun kesadaran dan bersinergi untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama,” tutupnya.