BUMN Peduli, TWC salurkan bantuan korban banjir di Gunungkidul

Tim posko BUMN peduli korban bencana PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (persero) yang bekerjasama dengan Patrajasa selain menyalurkan bantuan korban bencana banjir dan longsor di wilayah Kabupaten Bantul juga menyalurkan bantuannya di wilayah Kabupaten Gunungkidul yang juga terkena dampak bencana banjir dan longsor pada 28 November 2017 beberapa hari yang lalu.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mencatat titik bencana banjir menyebar di 18 kecamatan dan 50 titik longsor di Kabupaten Gunungkidul, Tim Posko BUMN Peduli bencana yang diprakasai oleh TWC mengujungi langsung di titik lokasi korban bencana yaitu di dusun Tileng Rongkop dan Dusun Gelaran 1 Bijiharjo Karangmojo Gunungkidul.

Dampak dari banjir ini dusun Gelaran mengalami kerusakan yang fatal yaitu putusnya jembatan sungai oya satu-satunya yang menghubungkan antara Dusun Gelaran 1 dan Dusun Gelaran 2 yang merupakan satu-satunya akses keluar masuk dari dusun.

Untuk menuju ke dusun gelaran I Bejiharjo Gunungkidul yang terisolasi akibat jembatan penghubung hancur di terjang banjir Tim BUMN Peduli bencana oleh TWC menggunakan perahu karet untuk menyeberangi sungai oya dengan ditarik memakai tali yang melintang di sungai.

Perahu karet ini sangat berfungsi selain untuk mengangkut orang juga sebagai pengangkut semua bantuan logistik yang di bantukan untuk menuju ke dusun gelaran 1, usai menyeberangi sungai Tim BUMN Peduli harus berjalan kaki melalui persawahan dengan satu tapak untuk sampai di lokasi.

Bantuan di serahkan langsung oleh Tim BUMN Peduli Bambang Sarwo Edy Kepala Divisi Program Kemitraan Bina Lingkungan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) yang di terima oleh perwakilan dari warga Gelaran, bantuan ini berupa logistik, selimut, handuk, sembako, mie instan dan susu dan lainnya.

Selain bantuan yang diterima warga Gelaran sangat berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang di bangun pada tahun 1986 oleh warga setempat, sehingga kegiatan masyarakat kembali normal.