Menyalakan Lentera di Sekitar Candi Borobudur

Sekitar 20 desa di sekitar Candi Borobudur berada dalam kondisi termarginalkan karena aktivitas perekonomian yang lesu. Desa-desa ini tidak merasakan manfaat langsung dari kunjungan jutaan wisatawan ke Candi Borobudur. Padahal, pada tahun 2016 lalu ada sebanyak 3,7 juta wisatawan menyambangi candi yang berlokasi di Kabupaten Magelang ini.Tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton, Kementerian BUMN segera memberi arahan pada tiga perusahaan BUMN yang tergabung di sektor pariwisata untuk membuat program pemberdayaan masyarakat. Ketiga BUMN tersebut, yakni TWC, ITDC, dan Patra Jasa mengonsepkan sebuah program pemberdayaan masyarakat bernama Balai Ekonomi Desa (Balkondes). Program Balkondes ini dibuat sedemikian rupa agar melibatkan masyarakat yang tujuan akhirnya adalah menggerakkan perekonomian desa.

“Kita ingin menghidupkan 20 desa di sekitar Candi Borobudur dengan cara menyalakan lampu kecil saja. Kalau setiap desa kita menyalakan 100 watt maka dari 20 desa kita mendapatkan 2.000 watt sehingga terang benderang juga. Itulah harapan kita,” kata Direktur Utama TWC, Edy Setijono, kepada Warta Ekonomi di Kantor TWC, Jakarta, awal Agustus.

Dalam program Balkondes ini, tiga BUMN yang disebut sebagai BUMN Pembina melakukan sinergi dengan beberapa BUMN sponsor untuk membangun balai masyarakat sebagai center activity. BUMN sponsor mengucurkan dana pembangunan balai sebesar Rp1 miliar di masing-masing desa. Saat ini sudah terbangun 17 balai di 20 desa hasil sponsor dari beberapa perusahaan BUMN, seperti TWC, Jasa Raharja, Pertamina, PLN, Hutama Karya, PGN, Jamkrindo, Semen Indonesia, Angkasa Pura, Jasa Marga, PTPP, Telkom Indonesia, BNI, Patra Jasa, Mandiri, BTN, dan BRI.

BUMN Pembina juga menjalin kerja sama dengan BUMDes dalam program Balkondes ini. Kemudian BUMDes akan menggandeng masyarakat agar terlibat dalam pengembangan potensi dan produk lokal desa berskala  home industry. Setelah itu, BUMN Pembina akan mendistribusikan wisatawan dari Candi Borobudur ke masing-masing desa menggunakan kendaraan yang sudah disiapkan.

“Balkondes itu sebuah komplek yang akan digunakan sebagai etalase desa dalam menampilkan potensi dan memasarkan produk-produk lokal. Balkondes itu juga harus mampu menampung crowd. Crowd itu penting karena tidak mungkin ekonomi bergerak jika tidak ada  crowd. Dua fungsi itu yang ada di Balkondes,” ujarnya.

Dalam prosesnya, TWC sebagai BUMN penanggung jawab program Balkondes di desa sekitar Candi Borobudur menemui berbagai macam tantangan, seperti kendala infrastuktur, kesiapan sumber daya manusia, hingga respons masyarakat. TWC mengakui tantangan-tantangan tersebut dapat dihadapi berkat kerja sama dan sinergi dengan berbagai pihak, seperti sinergi dengan BUMN dan Cipta Karya Departemen PUPR, untuk membangun akses jalan dan sinergi dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi dalam memberikan edukasi dan pembinaan ke masyarakat sekitar.

“Memang menjadi tantangan karena kadang-kadang masyarakat pragmatis. Masyarakat tidak punya visi jauh ke depan. Alhamdulillah, kami mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak,” ujarnya.

Hampir satu tahun berjalan, program Balkondes sudah memperlihatkan dampak positif. Tio, panggilan akrabnya, mengatakan beberapa dampak positif program ini, seperti aktivitas masyarakat yang mulai ramai di masing-masing desa. Aktivitas perekonomian di masing-masing desa juga mulai bergeliat akibat kehadiran wisatawan di desa tersebut. Dari sisi masyarakat, sudah mulai muncul keberanian dan rasa percaya diri untuk menjalani usaha secara mandiri.

“Jalan menuju desa dulu sepi, setelah ada Balkondes jalan ramai. Tanah yang dulu harganya Rp250 ribu, sekarang Rp2,5 juta. Artinya, sekarang masyarakat sadar bahwa mereka memiliki aset. Mereka juga semakin percaya diri untuk memulai usaha sehingga mereka mendapatkan pilihan tambahan dalam hidupnya menjadi pengusaha karena memang fasilitas sudah kami sediakan,” tuturnya.